Monday, June 07, 2010

Analisis Strategis SI\TI: Menentukan Potensi Dimasa Mendatang

Teknik penugasan yang selama ini telah didiskusikan memungkinkan peran yang seharusnya dimainkan oleh SI\TI dalam sebuah bisnis untuk dianalisa, baik secara kritis maupun secara konstruktif. Adalah sebuah hal yang sangat penting dimana Anda adalah sebuah situasi dari sebuah sistem yang ada dan begaimana sistem tersebut dapat mendukung dan memperbaiki performa operasional, manajemen kontrol dengan baik dan secara terus menerus melakukan pengembangan dalam bisnis tersebut. Aspek utama dari tugas ini adalah bagaimana melanjutkan sistem ini untuk memungkinkan agar aktivitas dan fungsi dari bisnis ini dapat dilakukan dengan harmonis. Hal ini menghasilkan pengertian dari hubungan yang berdasarkan atas informasi dalam bisnis, baik secara internal dan eksternal, begitu pula dengan kebutuhan dalam pemrosesan kebutuhan. Seringkali, analisa ini menemukan kekurangan, ketertinggalan, ketidakefektifan, dan ketidakmaksimalan pengolahan informasi yang ada dari sistem. Memastikan bahwa SI/TI tidak sedang menghambat performa bisnis yang sedang berjalan dan bukan juga merupakan sumber kerugian adalah sebuah kunci dari proses pengembangan strategi.

Teknik analisa yang telah dijelaskan sejauh ini tidak dibutuhkan untuk menghasilkan analisa seperti itu, baik untuk mempermudah untuk menunjukan pilihan dan isu sehubungan dengan alur manajemen. Alat dan teknik strategi berpikir dan menganalisa yang sering kali digunakan dalam formula strategi bisnis menawarkan pendekatan lain, yang akan dengan lebih mudah dapat diadopsi oleh alur manajer bisnis, yang memiliki komitmen kritis untuk mengubah ide - ide yang baik untuk menggunakan strategi yang akan digunakan dalan SI/TI.

1. MENENTUKAN STRATEGI INVESTASI SI\TI kE DALAM BISNIS
Dalam sebuah unit bisnis, portfolio dari produk dan/atau pelanggan dapat dianalisa untuk mengindentifikasi bagaimana setiap pengelompokan memberikan kontribusi atau menghasilkan tuntutan terhadap sumberdaya yang tersedia.

Unit bisnis adalah sebuah level dimana analisa terhadap persaingan menghasilkan fokus yang terpenting dan konsep strategi yang mana saja yang paling baik untuk diterapkan (biaya yang terendah, perubahan yang dihasilkan) - dimana keduanya adalah hal yang penting dan memungkinkan untuk mengembangkan dan mengoperasikan sekumpulan perilaku yang koheren untuk bisnis unit tersebut. Biaya yang rendah dibandingkan dengan perbedaan yang dihasilkan, menjadi konflik dalam sebuah unit bisnis yang akan menyebabkan kebingungan dan kurang optimalnya atau bahkan penentuan konsentrasi dari haasil pengambilan keputusan yang akan dicapai. Namun, dalam sebuah perusahaan, 2 unit bisnis yang beroperasi pada 2 lingkungan yang berbeda dapat mengadopsi strategi yang rendah biaya dan perubahan, yang juga masih saling berinteraksi secara internal satu sama lainnya.

Seperti yang telah dijelaskan pada Chapter 1, perubahan yang paling signifikan dari era SIS adalah fokus eksternal dari sistem tersebut. Organisasi telah mengadopsi pendekatan Strategi Unit Bisnis dalam perencanaan bisnis, untuk mencapai pengambilan keputusan strategis yang lebih efektif seperti yang terdapat pada phase 3 dari pendekatan terhadap manajemen strategi yang telah dibahas, didasarkan pada:
  1. Analisa situasi dan penugasan yang kompetitif
  2. Mengevaluasi pilihan - pilihan strategis
  3. Alokasi sumber daya yang dinamis
Meskipun hubungan yang dihasilkan tidak akan selalu sempurna, namun perubahan dari portfolio aplikasi harus mencerminkan perubahan dari tema strategis. Dengan menerapkan ide ini pada berbagai situasi dalam organisasi, mereka terbukti sangat bermanfaat dalam mengklarifikasi rasio bisnis untuk melakukan investasi terhadap perencanaan SI\TI. Secara umum, dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Penerapan strategis sebaiknya selalu berhubungan dengan dimensi yang dicari oleh organisasi untuk melakukan penyempurnaan dalam satu sampai tiga tahun kedepan.
  2. Pengembangan penerapan operasional utama adalah sesuatu yang bersifat esensial dalam semua dimensi jika sistem tersebut menyebabkan level performa jatuh dibawah target kesuksesan yang diinginkan.
  3. Proyek yang memiliki potensi yang tinggi akan secara normal menjadi prototype yang berhubungan dengan pengembangan strategi yang bersifat spesifik atau evaluasi dari ide yang berhubungan dengan dimensi lain.
2. ANALISA VALUE CHAIN
Konsep dari analisa value chain seperti yang dijelaskan oleh Michael Porter adalah: 'Setiap firma merupakan sekumpulan dari aktivitas yang dijalankan untuk mendesain, menghasilkan, memasarkan, mengirimkan dan mendukung produknya atau servisnya. Semua aktivitas ini dapat diwakili dengan menggunakan sebuah value chain. Value chain hanya dapat dipahami dalam konteks yang berhubungan dengan unit bisnis yang berhubungan.

Pada dasarnya, value chain dari unit bisnis dari firma yang ada yang butuh untuk dimengerti sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yang berhubungan dengan value chain - dimana hal tersebut terdiri dari supplier, pelanggan dan kompetitor, sebelum hal tersebut dapat dioptimalisasikan. perlakuan yang diberikan terhadap pihak - pihak lain ini akan menghasilkan efek yang signifikan terhadap apa yang dilakukan oleh sebuah firma dan bagaimana hal tersebut dilakukan. Hal ini terutama benar terjadi dalam area SI.

3. VALUE CHAIN EXTERNAL (VALUE CHAIN INDUSTRI OR VALUE SYSTEM)
Secara khusus, hal ini menekankan peran penting yang dimainkan informasi dalam rantai tersebut. Performa umum dari industri, ketika kita membicarakan mengenai kemampuannya untuk memaksimalkan nilainya yaitu menambahkan dan meminimalisasi biaya yang dikeluarkannya, benar - benar bergantung pada sebaik apa permintaan dan penyediaan informasi dipenuhi pada setiap tingkatan dari industri. untuk mencapai pendapatan dan keuntungan tertinggi yang mungkin didapat dari konsumsi barang dan pelayanan yang dihasilkan oleh industri, sumberdaya dari industri perlu untuk difokuskan pada proses penambahan nilai untuk mencapai kepuasan dari pelanggan. Kurangnya informasi berarti bahwa sumber daya tersebut terbuang atau digunakan secara tidak efisien, peningkatan biaya yang sia-sia, dan semua keuntungan jatuh.

Jika sebuah organisasi dapat memenuhi kebutuhan untuk produk dan servis nya dengan tepat dari setiap sumber daya yang ada setiap waktunya, performa dapat ditingkatkan dan efisiensi dapat dimaksimalkan. Secara umum, jika firma tersebut, 'unit bisnis tersebut', beroperasi pada jarak tertentu antara pelanggan dan suplier utama, adalah hal yang sulit untuk mendapatkan kebutuhan secara tepat dan menyediakan informasi. Menariknya, kita dapat mengharapkan organisasi yang memiliki komponen bisnis pada bagian yang berbeda dari value chain industri yang sama untuk bisa mengeksplor semua informasi yang mereka miliki untuk menampilkan siapa yang paling sedikit menutupi kerugian dari rantai tersebut.

Ketika Anda mulai memahami bagaimana informasi mengalir dalam sebuah organisasi memberikan efek pada firma tersebut, firma tersebut harus diperlakukan sebagai sebuah kotak hitam. Kemudian kebutuhan terhadap perubahan informasi dengan pelanggan dapat ditentukan berdasarkan seefektif apa informasi tersebut untuk kedua belah pihak.

Kemudian, kunci dari setiap aliran informasi dapat ditentukan untuk melihat bagaimana kemungkinan proses tersebut untuk dikembangkan untuk mencapai akurasi, kecepatan, biaya atau penjadwalan waktu dan bagaimana hal tersebut mungkin akan memberikan keuntungan bagi bisnis.

Sebuah penambahan nilai terhadap pelanggan ditekankan pada jeda dari barang yang ditawarkan dan akses lokal terhadap barang-barang tersebut, dan penilaian terhadap suplier dengan kemampuan untuk menyediakan kebutuhan pelanggan, membagi stok biaya dan administrasi dari transaksi yang memiliki nilai yang rendah, dll.

4. SYSTEM INFORMASI DAN VALUE CHAIN
Berdasarkan Rayport dan Sviokal, dengan mempertimbangkan 2 tipe dari informasi value chain dimasa depan yang akan diadopsi oleh e-commerce.
Pertama, impilkasi dari aliran informasi, yang memberikan informasi kepada pelanggan dimasa yang akan datang mengenai rantai produk dan servis yang tersedia, harus dipahami.
Kedua, e-commerce menawarkan potensi yang cukup besar untuk mengumpulkan informasi dan pengetahuan mengenai kesukaan pelanggan dan perilaku online, dibandingkan melalui riset yang dilakukan terhadap pasar tradisional.

5. CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT (CRM) DAN VALUE CHAIN
Model Resource Life Cycle (RLC) bergantung pada fakta bahwa produk/servis dari sebuah organisasi memiliki sebuah siklus hidup yang bersifat tipikal, ketika dipandang sebagai sebuah sumberdaya oleh pelanggan. Empat tingkatan dari siklus hidup ini adalah:
  1. Penentuan kebutuhan
  2. Akuisisi
  3. Pelayanan
  4. Penghentian
Model RLC menyebutkan bahwa hubungan informasi adalah sebuah kesinambungan, hal ini seringkali menghasilkan sebuah pergantian penjualan atau pembelian. Siklus hidup ini dapat saja terjadi dalam jangka waktu yang sangat singkan (dalam hitungan hari) untuk hal yang dapat dikonsumsi, tetapi akan menghabiskan waktu tahunan untuk barang-barang yang bersifat kapital.

Sistem CRM didesain untuk menutupi keseluruhan siklus hidup, menyediakan sebuah tampilan yang komprehensif dari pola interaksi pelanggan dan hubungannya dengan firma, memungkinkan pengambilan tindakan dibandingkan melakukan pendekatan untuk memenuhi kebutuhan yang ada.

Hal tersebut menimbang efek dari SI\TI dalam hubungannya dengan:
  1. Suplier - Siapa pun yang menyediakan sumber daya esensial.
  2. Pelanggan - ini dapat melingkupi pelanggan yang berikutnya akan berperan sebagai distributor.
  3. Kompetitor - kompetitor yang menjual produk atau servis yang mirip dan memasuki pasar dan menjadi produk/servis yang mengancam.
Untuk setiap dari mereka, strategi alternatif yang terpercaya - penyerangan dan pertahanan yang dapat dilakukan oleh firma:
  1. Perbedaan
  2. Harga
  3. Inovasi
  4. Pertumbuhan
  5. Kerjasama
6. VALUE CHAIN INTERNAL
Pendekatan value chain dapat dibagi menjadi 2 tipe aktivitas bisnis:
  1. Aktivitas primer
  2. Aktivitas pendukung
7. MODEL VALUE CHAIN TRADISIONAL
Porter mengklasifikasikan aktivitas primer menjadi 5 kelompok, yang dapat dianggap menjadi sebuah urutan yang dimulai dengan suplier dan berakhir pada pelanggan.
  1. Inbound logistics
  2. Operasi
  3. Outbound logistics
  4. Sales dan marketing
  5. Servis
Informasi yang mengalir dan sekritikal apa sebuah informasi terhadap fungsionalitas dari industri dan keberhasilan firma, dengan menentukan dimana dan kapan informasi tersebut tersedia, siapa yang memilikinya dan bagaimana informasi tersebut didapatkan dan diubah menjadi keuntungan atau digunakan dalam sebuah firma.

Informasi yang atau dapat diubah dengan pelanggan dan supplier disepanjang rantai (alur) untuk meningkatkan performa dari bisnis atau memimpin peningkatan performa bersama dengan berbagi keuntungan.