Monday, May 31, 2010

A Mobile Solution support for Knowledge Management

A Mobile Solution support for Knowledge Management
Galih Septanto (0922200763)


Abstrak: Mobile learning merupakan interseksi dari mobile computing dan e-learning yang menyediakan sumber daya yang dapat diakses dari manapun, kemampuan sistem pencarian yang tangguh, interaksi yang kaya, dukungan yang penuh terhadap pembelajaran yang efektif dan penilaian berdasarkan kinerja. E-learning memiliki karakteristik tidak tergantung terhadap tempat dan waktu.(Robby Robso, 2003) Pendidikan membutuhkan model alternatif pembelajaran yang memiliki karakteristik tidak tergantung lokasi dan waktu. Selain hal tesebut, model alternatif tersebut juga diharapkan mampu menyediakan fasilitas knowledge sharing dan visualisasi pengetahuan sehingga pengetahuan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.

1. Pendahuluan

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi kepentingan pembelajaran sudah diterapkan dalam berbagai bentuk. Penerapan yang paling umum dilakukan adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk membuat materi pengajaran, penyampaian bahan ajar maupun komunikasi dengan siswa. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pada tahap awal lebih terkonsentrasi pada penggunaan teknologi informasi sebagai media pendukung pembelajaran di kelas, Contoh nyata dari penerapan ini adalah pembuatan materi ajar dengan power point, penyampaian materi ajar dikelas dengan LCD proyektor, pengumpulan tugas melalui email, pencarian data dan informasi dengan fasilsitas internet dan lain sebagainya. Pada prinsipnya teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan lebih lanjut dengan mengadopsi konsep e-learning atau mobile learning.

Karakteristik pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah bersifat tidak tergantung terhadap waktu dan tempat, menyediakan fasilitas knowledge sharing dan visualisasi pengetahuan yang lebih atraktif. Suasana baru tersebut di harapkan dapat memberi solusi terhadap kejenuhan siswa terhadap metode pembelajaran. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka peran teknologi informasi dan komunikasi cukup strategis dalam mendukung proses pembelajaran. Makalah ini akan memfokuskan pembahasan pada konsep penerapan mobile learning sebagai alternatif pembelajaran.

2. Mobile Learning

Perkembangan Information and Communication Technology (ICT) yang sangat pesat menumbuhkan peluang dalam dunia pendidikan dan pelatihan untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang sangat efisien.


Gambar 1. Arsitektur m-Learning

2.1. Definisi m-Learning

Definisi m-Learning adalah Mobile learning merupakan pembelajaran dimana pembelajar dapat mengakses materi pembelajaran, arahan dan aplikasi yang berkaitan dengan course dan gerbang menuju NGL (Next Generation Learning) dimana belajar dapat dilakukan kapan-pun dan dimana-pun (Ubi Learning).

2.2. Evolusi Mobile Learning

Pada tahun 1980 dengan berkembangnya PC dan pendukungnya telah melahirkan e-Learning yaitu pembelajaran yang didukung oleh perangkat dan media elektronik digital. Perkembangan World-Wide-Web(www) yang dibangun pada infrastruktur internet juga memberikan perubahan pada kemampuan dan penyampaian informasi dan materi pembelajaran. Perkembangan tcknologi komunikasi dan perangkat mobile juga telah mengubah paradigma pendidikan dan pelatihan yang baru. Kebutuhan akan pembelajaran yang tidak terikat tempat melahirkan suatu sistem yang disebut sebagai mobile learning.

Divais bergerak telah muncul sebagai salah satu teknologi yang cukup menjanjikan untuk mendukung pembelajaran. m-Learning merupakan sebuah paradigma baru yang telah menciptakan lingkungan pembelajaran baru yaitu pembelajaran yang didukung oleh device bergerak dan transmisi nirkabel berupa teknologi selular.


Gambar 2. Evolusi m-Learning

2.3. Road Map Mobile Learning

1. Corespondence. Sistem pembelajaran dilakukan jarak jauh secara korespondensi dengan bantuan media surat-menyurat. Sistem pembelajaran ini berkembang sekitar tahun 1800-an.

2. Telecourse. Sistem pembelajaran melalui penyampaian satu arah. Sistem seperti ini berkembang terkait dengan perkembangan televisi pada akhir tahun 1950-an. Skema pembelajarannya masih mirip pembelajaran tatap muka dikelas dengan menggunakan teknologi pengiriman satu arah pada proses pengajarannya seperti pengajaran televisi, penyiaran radio, audio dan kaset video.

3. Electronic Classroom. Sistem pembelajaran satuarah dengan lebih mengarah pada penggunaan komputer. Penyampaian pembelajaran satu arah dilakukan secara lebih interaktif melalui pembelajaran berbasi CD-ROM, slow scan video atau audio teleconference. Proses pembelajaran dilakukan secara lokal pada institusi pendidikan dengan satu atau lebih komputer dalam satu ruangan dengan tanpa terhubung satu sama lain. Sistem pembelajaran seperti ini berkembang pada sekitar tahun 1960-1970-an.

4. Computer Based Learning. Mulai digunakan teknologi jaringan komputer serta penyediaan koneksi ke internet. Sistem pembelajaran yang mulai berkembang sekitar tahun 1980 sampai 1990- an ini dapat dilakukan interaktif dua arah dari lokasi mana saja yang terhubung dengan jaringan tersebut. Proses interaksi dan komunikasi jarak jauh dapat difasilitasi dengan menggunakan email,chat atau forum. Sistem pembelajaran ini berupa computer support teaching, audio video streaming, web based learning dan sebagainya.

5. Virtual Classroom. Sistem pembelajaran dengan berbasis pada internet secara penuh yang disebut sebagai advance distributed learning (ADL). Sistem pembelajaran berbasis internet dimana proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Proses pengajaran, interaksi dan komunikasi pihak-pihak yang terlibat dapat dilakukan secara interaktif dua arah langsung secara real time melalui interactive video conference dan electronic whiteboard. Kapasitas akses besar sangat diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran ini. Sistem pembelajaran ini yang saat ini sedang berkembang.

6. Mobile Learning. Dengan ditandainya perkembangan teknologi selular yang sangat signifikan membuat orang mulai berlomba-lomba untuk mengembangkan sistem ini diberbagai platform.

7. Ubi Learning . Next Generation Learning (NGL) dengan fokus pada mobilitas (mobile learning) dimana proses pembelajaran dapat dilakukan kapan saja dimana saja melalui teknologi jaringan bergerak nirkabel (wireless mobile).

Gambar 3. Road Map e-Learning

2.4. State of the art Penelitian m-Learning

M-Learning dapat dikatakan sebagai bidang penelitian yang relatif baru. Perkembangan bidang ini terutama dipicu oleh pertumbuhan teknologi perangkat nirkabel yang sangat pesat pada beberapa tahun terakhir. Beberapa penelitian dalam bidang ini mendefinisikan m-learning sebagai migrasi dari e-learning ke perangkat portabel (Trifonova, 2005). Namun demikian migrasi pembelajaran dari komputer PC ke telepon genggam atau PDA membutuhkan beberapa penyesuaian terhadap bagaimana menyesuaikan materi belajar ke dalam layar, resolusi, memori dan keyboard dengan ukuran kecil dan terbatas. Pertimbangan yang berkaitan dengan karakteristik perangkat-perangkat mobile ini sangat menentukan pemilihan teknik pemrograman dan model pembelajaran m-learning. Karena itu studi tentang m-learning sebagian besar berpusat pada studi tentang pembangunan model m-learning (Barker, 2005).

Beberapa penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan m-learning untuk mendukung proses belajar mengajar di negara-negara Eropa dan Amerika Utara menunjukkan hasil yang positif (Andronico, 2004). Dvorak dan Burchanan melaporkan bahwa penggunaan teknologi m-learning meningkatkan kolaborasi antara siswa dan guru (Dvorak, 2002). Percobaan yang dilakukan di Kingston University mengukur kecepatan respon belajar dengan menggunakan short message service (SMS) dibandingkan dengan menggunakan e-mail dan web. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa siswa lebih menyukai penggunaan teknologi sms dengan alasan bahwa belajar menjadi lebih personal (Stone A, 2002). Beberapa projek dibuat di Eropa untuk mendukung peralihan menuju m-learning, antara lain: m-Learning project yang memfokuskan diri pada studi tentang problem pendidikan dan sosial pada orang-orang muda yang menggunakan perangkat mobile. Sementara itu DfSE/Becta PDA project melakukan evaluasi terhadap pengaruh penggunaan PDA pada guru dan murid di dalam sekolah. Mobile Tearn melakukan eksplorasi terhadap kemungkinan penggunaan peralatan nirkabel untuk kebutuhan belajar mandiri (Barker, 2005). Studi tentang m-learning juga dilakukan di Stanford Lab, USA dan di Jepang (Thornton.P, 2005)

2.5. Fungsi dan Manfaat m-learning

Terdapat tiga fungsi m-Learning dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas, yaitu sebagai suplement yang sifatnya pilihan, pelengkap, atau pengganti.

A. Suplemen
Mobile Learning berfungsi sebagai suplement, yaitu: peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi Mobile Learning atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi Mobile Learning. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

B. Komplemen
Mobile Learning berfungsi sebagai komplemen, yaitu: materinya diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Di sini berarti materi Mobile Learning diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (penguatan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

Materi Mobile Learning dikatakan sebagai enrichment (pengayaan), apabila kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan pendidik secara tatap muka diberikan kesempatan untuk mengakses materi Mobile Learning yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan pendidik di dalam kelas.

Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan pendidik secara tatap muka di kelas peserta didik yang memahami materi dengan lambat diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi Mobile Learning yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan pendidik di kelas.

C. Substitusi
Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran kepada para peserta didik /siswanya. Tujuannya agar para peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktifitas sehari-hari peserta didik. Ada tiga alternative model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu:

1) Sepenuhnya secara tatap muka;
2) Sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau
3) Sepenuhnya melalui internet.

Alternatif model pembelajaran manapun yang akan dipilih peserta didik tidak menjadi masalah dalam penilaian, karena semua model penyajian materi perkualiahan mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Jika peserta didik dapat menyelesaiakan program perkuliahannya dan lulus melalui cara konvensional atau sepenuhnya melalui internet, atau melalui perpaduan kedua model ini, maka instusi penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel ini dinilai sangat membantu untuk mempercepat penyelesaian perkuliahannya.

2.6. Manfaat m-Learning dari Dua Sudut

Berikut ini ada beberapa manfaat mengenai Mobile Learning dari dua sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan pendidik:

a. Peserta Didik
Dengan kegiatan m-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengaskses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan pendidik setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Manakala fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaaan, maka kegiatan m-learning akan memberikan manfaat kepada peserta didik yang:

1) Belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya;
2) Mengikuti program pendidik dirumah (home schoolers) untuk mempelajari materi pembelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh para orang tuanya, seperti bahasa asing dan keterampilan di bidang komputer;
3) Merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi berminat melanjutkan pendidikannya, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri; dan
4) Tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan.

b. Pendidik
Dengan adanya kegiatan m-learning, beberapa manfaat yang diperoleh pendidik/instruktur antara lain adalah bahwa mereka dapat:

1) Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jwabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi;
2) Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkata wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif banyak;
3) Mengontrol kegiatan belajar peserta didik, bahkan pendidik/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajri, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang;
4) Mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu;
5) Memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepda peserta didik.

2.7. Delapan Pilar Implementasi m-Learning

Barker dalam (Barker, 2005) menyebutkan 8 pilar untuk menjamin kesuksesan adopsi m-learning, yaitu: koordinasi, komunikasi, mobilitas, antar-aktifitas, organisasi materi, negosiasi, motivasi dan kolaborasi. Keenam hal pertama diadopsi dari (Zurita, G, 2004). Koordinasi mengacu pada adanya dorongan agar para pebelajar berpartisipasi secara aktif melakukan koordinasi aktifitas belajar. Komunikasi menjamin ketersediaan saluran komunikasi antara pebelajar dan guru. Mobilitas berkaitan dengan pemanfaatan perangkat portabel untuk menjamin mobilitas dari pebelajar. Antar-aktifitas mengacu pada dorongan agar para pebelajar dapat saling bertukar informasi di antara mereka. Organisasi materi berkaitan dengan pengaturan materi belajar m-learning. Negosiasi mengharuskan adanya negosiasi di antara pebelajar di dalam menyelesaikan konflik dan mengambil kesimpulan. Motivasi mengacu pada proses penciptaan lingkungan belajar yang dapat menimbulkan keinginan belajar bagi pebelajar. Dan Kolaborasi yang dimaksud adalah adanya kerjasama antara guru dan pebelajar.

3. Perangkat Mobile dan Teknologi Pendukung

Perangkat mobile merupakan prasyarat dasar bagi berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan m-learning. Beberapa peralatan yang memungkinkan di gunakan (beredar di pasaran), antara lain:

A. Telepon Seluler (Ponsel)
Telepon Seluler sudah bukan asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Ponsel memiliki kemampuan standar untuk komunikasi suara dan short message service (SMS). Ponsel dengan kemampuan lebih dapat digunakan untuk komunikasi internet melalui Wireless Application Protocol (WAP) atau bahkan dapat digunakan untuk melakukan video conference.

B. Personal Digital Assistant (PDA)
PDA merupakan alat bantu organisasi yang berukuran kecil tetapi memiliki kemampuan lebih tinggi daripada ponsel. PDA juga dikenal dengan nama lain, seperti: handheld computer, palmtop computer, pocket computer. PDA memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut: melakukan kalkulasi dan organisasi jadwal, bermain game, menyimpan alamat, akses internet, mengirim dan menerima e-mail, merekam video, pemroses kata dan bahkan dapat digunakan untuk mendeteksi lokasi dengan menggunakan Global Posisioning System (GPS).

C. Smart Phone
Smart Phone merupakan kombinasi antara kemampuan yang dimiliki oleh ponsel dengan kemampuan yang dimiliki oleh PDA. Atau dengan kata lain smart phone adalah PDA yang dapat berfungsi sebagaimana halnya sebuah ponsel untuk komunikasi suara dan data. Jenis-jenis smartphone yang sudah beredar di Indonesia antara lain: Nokia E-series (E90, E72, E71) dan N-series (N900, N70), Blackberry, Sony Ericsson X1, HTC Artemis, iPhone dan Mmotorola A583.

4. Konsep Implementasi Mobile Learning

Mobile learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat di akses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Hal penting yang perlu di perhatikan bahwa tidak setiap materi pengajaran cocok memanfaatkan mobile learning.

Penerapan mobile learning perlu memperhatikan faktor bahwa tidak semua level pendidikan cocok dengan konsep mobile learning. Hal ini terkait dengan materi ajar dan kebutuhan pendidikan itu sendiri. Materi ajar yang tidak cocok mengadopsi konsep mobile learning antara lain: materi yang bersifat ”hands on”, keterampilan sebagai mana dokter gigi, seni musik khususnya mencipta lagu, interview skills, team work seperti marketing maupun materi yang membutuhkan pengungkapan ekspresi seperti tarian.(Traxler, 2004) Mempertimbangkan hal hal tersebut diatas maka penerapan mobile learning lebih baik pada jenjang pendidikan tinggi. Konsep mobile learning pada jenjang pendidikan tinggi yang diusulkan adalah sebagai berikut:

1. Konsep mobile learning di fokuskan untuk menyediakan kelas pembelajaran maya yang memungkinkan interaksi antara guru dan siswa. Interaksi meliputi penyediaan materi ajar, ruang diskusi, penyampaian tugas dan pengumuman penilaian.
2. Teknologi yang diadopsi sebaiknya efektif secara pedagogi dan dinilai sebagai sebuah pembaharuan. Selain itu teknologi yang dipilih sebaiknya mudah di akes dan tersedia dengan distrubusi yang merata di lingkungan siswa maupun guru.

5. Mobile learning readiness

Pengukuran terhadap readiness atau kesiapan merupakan aktivitas yang perlu dilakukan. Hal ini disebabkan karena kesiapan terkait dengan keberhasilan penerapan mobile learning. Dalam konteks penerapan mobile learning kesiapan dapat dipahami sebagai kemauan dan kemampuan untuk menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam mobile learning. Mobile learning readiness menyangkut semua stake holder yang terkait dengan penerapan mobile learning antara lain guru, siswa, pihak penyelenggara atau lembaga pendidikan dan pemerintah sebagai penyedia infrastruktur dan regulasi.

Guru diharapkan memiliki kemauan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Kemauan untuk menerima teknologi informasi dan komunikasi menjadi pintu awal yang mempengaruhi faktor kesiapan lain yaitu ICT literacy. Kemauan menerima teknologi akan mempengaruhi terhadap kemauan untuk menggunakan dan mempelajari teknologi informasi dan komunikasi untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar. ICT literacy merupakan kemampuan teknis dan kognitif yang dimiliki guru untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar.

Siswa berperan sama pentingnya dengan guru dalam proses pembelajaran. Kemauan siswa untuk menerima teknologi juga merupakan dimensi kesiapan yang perlu diukur. Sedangkan dimensi kemampuan meliputi ICT literacy, media akses, dan daya beli siswa dalam mengakses materi pembelajaran. ICT literacy terkait dengan kemampuan teknis dan kognitif siswa dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Selain dipengaruhi oleh ICT literacy maka ketersediaan alat akses yang dimiliki siswa juga merupakan aspek kesiapan yang penting. Kemampuan menggunakan yang didefinisikan dengan ICT literacy dan ketersediaan alat akses perlu didukung oleh kemampuan siswa dalam ”membeli” materi ajar seperti biaya untuk akses internet, pulsa handphone atau telepon dll.

Peran lembaga pendidikan adalah sebagai penyelenggara atau pengelola mobile learning. Lembaga pendidikan perlu memiliki e-leadership yang kuat dan menyediakan infrastruktur yang memadai bagi keberhasilan penerapan mobile learning. E-leadership memiliki arti kemauan dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang diwujudkan dengan kebijakan, regulasi maupun prioritas dalam bentuk anggaran. Infrastruktur diperlukan sebagai tulang punggung penyelenggaraan mobile learning.

Pemerintah merupakan lembaga yang berkewajiban menentukan regulasi dan menyiapakan fasilitas publik. Terkait dengan penerapan mobile learning maka peran pemerintah dapat diukur dari tersedianya regulasi yang mendukung mobile learning, ketersediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi serta lingkungan bisnis yang kondusif sehingga masyarakat mudah mendapat fasilitas teknologi informasi dan komunikasi. Tabel berikut ini menggambarkan konsep kesiapan yang telah dijelaskan:




6. Model Teoritis Perencanaan m-Learning

Model teoritis perencanaan m-learning ini berfungsi sebagai panduan sebelum implementasi pembelajaran dengan m-learning dilaksanakan.

Sebagaimana terlihat dalam Gambar 4, model ini terdiri atas tiga buah elemen utama, yaitu: learning management/teacher, infrastructure/communication dan mobile devices/student. Komponen utama dalam learning management (atau mungkin juga merupakan komponen utama dalam m-learning) adalah mobile Learning Management System (mLMS) yang melaksanakan pengaturan terhadap isi (content) dari materi pembelajaran beserta metode pembelajaran m-learning. Untuk menunjang proses pembelajaran yang lengkap, mLMS didukung oleh adanya proses administrasi yang baik ( misalnya: registrasi, pelaporan nilai, dll) dan proses validasi hasil belajar melalui assessment. Seluruh proses di dalam mLMS ini dilakukan dan dikendalikan oleh tenaga pendidik (teacher).

Sedangkan elemen kedua dari model ini adalah ketersediaan infrastruktur/komunikasi. Infrastruktur di sini meliputi ketersediaan perangkat server yang terhubung pada jaringan internet berfungsi untuk menyimpan dan publikasi materi belajar. Selain itu infrastruktur juga mencakup ketersediaan ektensi ke jaringan telekomunikasi seluler dan metode akses. Berdasarkan kemampuan perangkat mobile yang ada di pasaran, metode akses dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: melalui short message service (sms), melalui protokol Wireless Application Protocol (WAP) dan akses melalui Wireless Fidelity (WiFi) untuk menjamin koneksi ke jalur internet. Infrastruktur juga harus dapat menjamin adanya komunikasi yang handal agar kedua elemen teacher dan student dapat saling berkomunikasi.

Elemen terakhir dari model ini adalah perangkat dan pebelajar. Karena itu fokus dari perencanaan Learning Management harus mengarah pada isi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi perangkat dan pebelajar. Dalam hal m-learning, isi pembelajaran harus memiliki modul pembelajaran yang singkat (maksimal 5-10 menit), sederhana dan menyenangkan, isi dari modul dapat memberikan manfaat bagi proses belajar mengajar, dan dapat digunakan pada semua model telepon genggam.

Seperti terlihat dalam Gambar 4, model teoritis perencanaan m-learning juga dilengkapi dengan alokasi delapan pilar implementasi m-learning, yang telah diuraikan dalam sub-Bab 2.7, ke dalam kolom-kolom yang bersesuaian dengan ketiga elemen utama. Berdasarkan model tersebut, maka organisasi materi merupakan pilar yang harus diperhatikan pada saat melakukan desain dan perencanaan elemen learning management dari m-learning. Sementara itu, komunikasi dan kolaborasi merupakan pilar-pilar untuk perencanaan elemen infrastructure/ communication. Yang terakhir adalah pilar motivasi, mobilitas, antaraktifitas, negosiasi dan kolaborasi merupakan bagian dari elemen mobile devices/student.


Gambar 4. Model Teoritis Perencanaan M-Learning.

7. Penutup

Konsep model m-learning diharapkan dapat menjadi panduan bagi perencanaan pembelajaran dengan menggunakan m-learning. Tiga elemen utama dalam perencanaan m-learning adalah: learning managemen/teacher, infrastructure/communication dan mobile devices/student

8. Daftar Pustaka

Robso, Robby;” Mobile Learning And Handheld Devices In The Classroom “,Eduworks Corporation, Corvallis, Oregon, USA;IMS Australia;2003.

Trifonova, A., “E-learning and M-Learning: Experiences, a Prototype and First Experimental Results”, Proceedings of World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia and Telecommunications (ED-Media 2005), Montreal, Canada, 2005.

Barker, A. et.al., “A Proposed Theoretical Model for M-Learning Adoption in Developing Countries”, Proceeding of World Conference on mLearning. Cape Town, South Africa, 2005.
Andronico, A., “Designing Models and Services for Learning Management Systems in Mobile Settings”, Journal Springer LNCS vol. 2954, 2004.

Dvorak J. D., and Burchanan K., “Using Technology to Create and Enhance Collaborative Learning”, Proceeding of 14th World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia and Telecommunication (ED-MEDIA 2002), Denver, CO, USA, 2002.

Stone A., Briggs J., and Smith C., “SMS and Interactivity: Some Results from the Field and its Implications on Effective Uses of Mobile Technologies in Education”, Proceeding of IEEE International Workshop on Wireless and Mobile Technologies in Education (WMTE 2002), Vaxjo, Sweden, 2002.

Zurita, G. and Nussbaus, M., “Computer Supported Collaborative Learning using Wirelessly Interconnected Handheld Computer”. Elsevier Journal on Computers and Education, vol. 42, no. 3, pp. 289-314, 2004.

Traxler, John;”Mobile Learning-Evaluating The Effectiveness And The Cost” Learning With Mobile Devices, Abook Af Papers;Learning And Skilla Development Agency 2004.