Thursday, April 15, 2010

Profesi IT kurang dihargai di Indonesia

Dewasa ini, Teknologi Informasi (IT) di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyaknya masyarakat yang memiliki website atau blog pribadi, maraknya warnet-warnet di kota besar maupun di kota kecil, hingga banyak bermunculan lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal yang secara khusus mempelajari bidang IT menjadi indikasi bahwa industri IT di Indonesia telah meningkat dan menjadi lahan baru untuk mencari keuntungan.

Perkembangan IT yang cukup pesat juga mendorong banyak orang saling berlomba untuk mengeruk keuntungan atau mencoba peruntungan baru dengan menguasai bidang ini, baik sebagai developer/programmer maupun bertindak sebagai pelaku bisnis IT. Hal tersebut dapat dilihat dari berkembangnya perusahaan yang memberikan jasa di bidang IT dan banyaknya lulusan IT yang dihasilkan setiap tahun oleh lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Kondisi ini telah membuat iklim dunia IT di Indonesia menjadi tidak sehat karena setiap individu maupun organisasi ingin menjadi yang terdepan dan memperoleh keuntungan yang maksimal dengan menggunakan berbagai cara. Ini dibuktikan dengan rata-rata upah minimum yang diterima oleh seorang pekerja IT dibawah upah minimum regional.

Ironis bila melihat seorang pekerja IT memperoleh upah yang berbanding terbalik dengan kemampuan yang dimiliki. Namun inilah kenyataan yang terjadi di Indonesia. Membanjirnya tenaga ahli yang memiliki keterampilan dibidang IT, tidak adanya standarisasi dan klasifikasi keahlian IT serta pandangan masyarakat tentang IT bukan sebagai sebuah keahlian profesi namun lebih ke arah keterampilan personal merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya upah seorang pekerja IT.

Padahal jika dilihat dari sisi kemampuan, seseorang yang menjadi pekerja IT sudah pasti memiliki logika yang tinggi dan otak yang cerdas, karena hal tersebut adalah syarat yang mutlak untuk mempelajari, merancang serta membangun sebuah sistem atau aplikasi. Selain itu juga seorang programmer juga harus menguasai Akuntansi agar dapat membuat sebuah aplikasi bisnis. Dan jika dilihat dari sisi kebutuhan bisnis, IT telah menjadi bagian terpenting di setiap institusi baik menengah kebawah maupun ke atas. Dengan IT, segala sesuatu kegiatan perusahaan dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan tepat, tanpa dibatasi oleh ruang serta waktu, seperti contohnya dapat melakukan transaksi secara online tanpa harus datang ke bank. Namun hal tersebut tidak dijadikan acuan oleh masyarakat dalam menghargai seorang pekerja IT, tetapi justru karena kemudahan – kemudahan yang diberikan tersebut membuat masyarakat berpikir seorang pekerja IT hanya bertugas untuk mengoperasikannya saja tanpa harus membuat jadi sewajarnya mereka diberikan upah yang rendah. Dan pemikiran inilah yang terus berkembang di masyarakat sehingga menanamkan sebuah pandangan bahwa IT itu adalah MURAH termasuk juga tenaga kerjanya. Ironis memang jika membayangkan seorang tenaga kerja IT tak jarang harus bekerja siang dan malam melebihi jam kerja di bidang lain namun memperoleh upah yang setara atau dibawah profesi lain.

Banyak perusahaan yang memandang sebelah mata terhadap bidang IT. Mereka hanya ingin memanfaatkan pekerja IT secara maksimal dengan mewajibkan setiap staff IT untuk lembur dan menguasai beberapa sub bidang IT, namun tetap memberikan upah yang rendah. Miris melihat kenyataan tersebut, tetapi inilah yang terjadi pada saat ini dan entah sampai kapan jika pemerintah Indonesia tidak mengambil tindakan tegas dengan mengeluarkan ketentuan – ketentuan yang berkaitan dengan profesi IT. Apabila hal ini dibiarkan lebih lanjut, maka bukan hal yang tidak mungkin ahli IT di Indonesia akan beralih ke negara dimana IT sangat dihargai.